Ikhtiar Sehat di Kampung Kumuh (bagian 1)

 

Pos Sehat Nasrullah

Kampung Sri Rahayu atau kampung Dayak bagi warga Purwokerto, sudah tidak asing. Kampung ditengah kota Purwokerto ini sudah sejak lama menjadi momok terjadinya berbagai kasus yang sempat viral menghiasi media massa. Cari saja jejak digital kasus Dewi, bocah kecil yatim yang harus menanggung beban hutang pada rentenir akibat hutang orang tuanya yang sudah meninggal dengan jalan mengemis. Belum lagi kasus lainnya, penderita HIV AIDS, lansia terlantar, orang sakit terlantar, pernikahan dibawah umur, melahirkan di usia muda. Itu adalah sederet kasus yang sempat pula melibatkan LKC Dompet Dhuafa dalam penangannya.

Sejak 2014 tim LKC sudah berupaya intervensi dikampung ini melalui program kesehatan dan sosial. Begitu pula lembaga lainnya. Mungkin sudah tidak terhitung bantuan yang sifatnya charity juga digelontorkan di kampung ini. Semuanya bubar tidak berbekas.

Banyak pihak juga mengakui tidak mudah merubah perilaku warga setempat untuk kearah yang lebih baik. Kampung dengan dua wilayah rukun tetangga (RT) ini dihuni oleh warga dengan pekerjaan buruh serabutan. Bahkan kalau mau tanya dimana lokasi paling banyak pengemis, ya disinilah tempatnya.

Sejarah kurang baik kampung ini tidak lepas dari tumbuhnya pusat kota Purwokerto. Kampung Sri Rahayu terletak dibelakang terminal lama Purwokerto. Sebelum pemerintah daerah kabupaten Banyumas memindahkan terminal ke lokasi yang baru saat ini, kampung Sri Rahayu tak luput dari pusat keramaian terminal. Silih berganti orang datang dari berbagai daerah, dari yang akhirnya menetap atau hanya singgah, ngontrak di kontrakan permanen maupun bedeng-bedeng semi permanen liar. Dari yang memiliki pekerjaan baik, hingga yang pekerjaan non formal lainnya. Campur baurnya dan latar belakang penghuni dikampung ini, menjadikannya kampung ini terkenal pula dengan sebutan Kampung Dayak.

Begitu memasuki kampung ini, kita akan dusuguhi pemandangan kali yang airnya hitam pekat berbau. Rumah-rumah berjajar tidak rapi, saling berhimpit. Beberapa rumah dan bangunan ada yang bediri megah, biasanya milik pendatang yang punya modal membuat usaha warung kelontong atau game online, atupun losmen baik yang masih beroprasi maupun sudah tinggal nama. Sampah plastik betebaran dikanan kiri jalan utama. Masuk gang, pemandangan anak-anak dekil berlarian atau bahkan bemain dikali yang kotor dengan asyiknya.

Masuk lagi ke gang lain, jangan heran jika kerap menjumpai wanita perokok dengan pakaian mini, atau (maaf) waria yang wira-wiri atau bahkan mendapati tatapan tajam tajam oleh lelaki bertato. Mereka kebanyakan penghuni kontrakan. Bisa jadi warga asli maupun pendatang.

Bono, Ketua RT 04, RW 10 Kampung Sri Rahayu, Karang Klesem, Purwokerto Selatan berharap ada program yang lama bertahan dikampungnya, agar kebermanfaatanya juga panjang. Selama ini banyak organisasi datang, tapi jarang yang bertahan sampai lama.

Saat ini kondisinya suah jauh lebih baik, dibandingkan tahun sebelumnya, beberapa bedeng liar sudah diratakan beberapa tahun lalu. Penataan dan pembinaan yang dilakakukan oleh pemerintah cukup berdampak baik, namun akan lebih baik jika ada lembaga yang betul-betul rutin melakukan pemberdayaan ditempatnya, kata Bono. Dirinya bersyukur dengan program Pos Sehat yang diinisiasi LKC Dompet Dhuafa. Dengan adanya program ini, Bono berharap tidak ada lagi kejadian-kejadian yang membuat nama kampungya menjadi sorotan. Sebagai ketua RT dirinya cukup malu sebenarnya jika lagi-lagi yang bermasalah dan disorot adalah kampung diwilayah administrasinya.

Manajer LKC Dompet Dhuafa, Titi Ngudiati menjelaskan program di kampung ini menjadi tantangan dirinya dan tim. Dibandingkan Pos Sehat tempat lainnya, Pos Sehat Nasrullah Kampung Sri Rahayu Kelurahan Karang Klesem Purwokerto Selatan memiliki kekhasan, mulai dari penghuni, karakter wilayah dan sarana prasarana yang ada. Permasalahannya sangat kompleks.

“Kami berharap mampu menjadi motor penggerak perubahan yang baik bagi warga kampung Sri Rahayu”, ujar Manajer LKC yang sudah tujuh tahun mengabdi di LKC Dompet Dhuafa Purwokerto ini.

Sebelum mendirikan Pos Sehat Nasrullah Kampung Sri Rahayu, LKC Dompet Dhuafa melakukan FGD bersama forum komunikasi kecamatan Purwokerto Selatan yang dihadiri oleh perwakilan dari Kelurahan, Puskesmas, Pemerintah Kecamatan, Koramil, Polsek, RT-RW dan tokoh masyarakat setempat. Dukungan yang diberikan menjadi motivasi untuk dapat mencapai keberhasilan program di kampung ini.

Tahun ini, LKC juga mendapat dukungan dari akademisi dari jurusan Kesehatan Masyarakat Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto. Salah sau dosen yang akan terlibat adalah mantan penerima beasiswa ETOS Dompet Dhuafa yang insyaAllah akan melibatkan diri dan juga unit kegiatan mahasiswa dalam program ini. Dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan, mari terus membentang kebaikan dalam program kesehatan untuk dhuafa.

#dompetdhuafa
#layanankesehatancumacuma
#dompetdhuafapurwokerto
#dompetdhuafajateng
#possehat
#kampungsrirahayupwt
#kampungdayak
#musholanasrullahpwt

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *