Air untuk Kehidupan di Pucuk Desa Gunung Tumpeng

Air untuk Kehidupan di Pucuk Desa Gunung Tumpeng

Kekeringan di Grobogan tahun 2019 ini memang berada di puncak-puncaknya dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak? Pada siang hari saja, suhu ruangan bisa mencapai 37 derajat celcius. Sedangkan suhu luarnya bisa mencapai hingga 38-39 derajat celcius. Bisa dibayangkan betapa panas dan gerahnya.

Siang itu, senin 16 september 2019, saya mendapatkan permintaan langsung dari pak Lurah salah satu desa di Karangrayung via whatsapp agar desanya disambangi air bersih. Nomor saya rupanya sudah disebar oleh pegawai kecamatan Karangrayung, gegara pada sebuah siang mengobrol panjang tentang aksi penanganan kekeringan yang sudah dilakukan oleh pemda.

Ialah desa Gunung Tumpeng yang dimaksud. Desa yang bisa saya sebut ndesonya ndeso, dengan letaknya yang pucuknya pucuk, jauhnya jauh, sedangkan jalan menuju ke sana jeleknya jelek di jaman digital 4.0 seperti sekarang. Benar-benar bikin mules sepanjang perjalanan.

Permintaan pak Lurah kepada saya agar berkenan mengirim air ke 3 dusun (6 titik berbeda) yang dilanda kekeringan parah saya iyakan. Sembari saya katakan ke beliau bahwa saat ini hanya bisa membawa 1 tangki karena memang 2 tangki sebelumnya dari Dompet Dhuafa sudah terlebih dahulu dikirim ke 2 desa lainnya. Akhirnya komunikasi selesai, rabu disepakati untuk dimulainya pengiriman air.

Saya berangkat ke lokasi selepas mengantari anak sekolah. Sekira tepat pukul 08.00 WIB dari sekolahan anak mbarep atau dari Purwodadi saya start. Tak lupa mengaktifkan google maps layaknya driver ojol. Hahahha… memang, desa Gunung Tumpeng bagi saya sudah sering mendengarnya tapi belum kesana sendiri. Hanya sering mendengar orang cerita bahwa jangan kesana karena saking jauh dan jeleknya jalan.

Dari pasar Gadoh desa Sendangharjo, perasaan saya sudah nggak enak. Betapa google maps mengarahkan motor bebek saya ke jalan setapak memasuki hutan jati yang ketika 2 motor bersimpangan, maka salah satu musti mengalah berhenti. Tak yakin, saya copot helm lalu tanya ke simbah yang juga aneh menurut saya. Berbicara keras seperti orang ngobrol, padahal jelas-jelas dia sendirian. Tak mau larut seperti cerita KKN Desa Penari, setelah saya nanya dan diiyakan olehnya bahwa memang jalan setapak itu menuju balaidesa Gunung Tumpeng, motor saya gas kembali.

Di sepanjang kiri kanan jalan menuju ke desa Gunung Tumpeng, hanyalah pepohonan jati yang mengering. Sesekali saja ada orang yang ke ladang atau mengambil air di sumur sebuah sendang. Ketika saya tanya, rerata jawabnya adalah sudah mengering berkurang drastis tidak seperti 2-3 bulan lalu.

Selama hampir 1.5 perjalanan yang bikin perut mules karena memang saking jeleknya jalan, mulai nampak rumah-rumah penduduk. Dan ketika masuk ke desa, alhamdulillah tersaji jalan cor beton kiri kanan. Lumayan walau sudah berlubang sana-sini.

Saya berhenti lalu menghampiri salah seorang warga yang tengah duduk di pinggir jalan, “balaidesa ke arah mana mbah?”, dijawabnya “oiya lurus terus mas, masih jauh.” Gumamku, “iki wes adoh mosok balaidesa iseh adoh?” Dan memang benar, jauh masih.

Sekira 10 menit perjalan cor beton kiri kanan tersebut, ada yang berbeda dan menjadi tombo kesel. Ialah pemandangan pegunungan di jalanan desa yang naik turun itulah yang begitu memanjakan mata. Saya menyebutnya “eksotisme kekeringan hutan jati”.

Sesampai di balaidesa Gunung Tumpeng, pukul 10.30 an, langsung saya disambut pak Lurah dengan aparat lengkap. Saya sempat GR, padahal hanya sandal jepitan dengan kaos oblong (harap dimaklumi karena memang dipaksa cuaca yang sedemikian panasnya). Tapi ternyata, hari itu pas ada agenda Musrenbangdes. Bukan karena menyambut saya. Hehhhe…

Setelah kenalan dang ngobrol singkat, pak lurah memberikan intruksi.
“Mas jupri (kadus Banyupahit), iki mase tolong dianter ke dusunmu. Lokasi sing kekeringan wingi kae”.

Saya dan mas kadus (demikian saya menyebutnya karena masih seusia), menuju ke lokasi. Lalu balik lagi ke kelurahan, untuk charging hape dan koordinasi dengan supir tangkinya. Maklum sinyal hilang ketika berada di luaran.

*

Bakda makan mie ayam di satu-satunya warung di dusun tersebut, kami shalat dhuhur di mushola terdekat. Masuk ke mushola begitu nyesss. Terdapat 2 kipas angin yang bermaksud kami nyalakan agar lebih adem sembari menunggu tangki datang, eh malah udara jadi lebih panas.

Sesaat kemudian, ada warga berteriak bahwa ada truk tangki air. Mereka bergegas setengah berlari sembari membawa jerigen, centing, ember, dsb agar tidak ketinggalan dengan yang lain.

Setelah truk tangki sudah dalam posisi, saya minta untuk atur posisi tidak jauh dari penampungan umum di depan SD satu atap Negeri 1 Gunung Tumpeng. Di sana jerigen dari sekira 30 kk berjejer. Sebagian besarnya ibu-ibu yang datang antusias mengambil air. Sedangkan bapak-bapak hanya melihat dari samping, karena hendak pergi ke hutan pinggir desa untuk mengambil kayu atau menanam biji jagung.

Kata salah satu penerima air, “Dusun banyupahit iki paling parah dibandingke 4 dusun liyane mas. Makane remen kulo angsal bantuan saking jenengan. Mugi seger kewarasan sekeluarga terus njih mas.” Alhamdulillah mendapatkan doa gratis, batin saya.

Selepas air benar-benar habis, saya bersalaman dengan beberapa penerima air, mas kadus, dan beberapa bapak-bapak yang melihat dari pinggir. Kata salah seorang dari bapak-bapak itu, “ojo sepisan thok ya mas. Udane jeh suwe.” Sembari terkaget, karena memang BMKG meramal bahwa musim hujan baru akan datang di awal nopember, saya jawab “insyaallah dongake njih pak”.

Demikianlah laporan langsung dari perkampungan Gunung Tumpeng. Desa terisolir oleh medan berat, yang dilanda kekeringan berat saat ini.

Purwodadi, 20 september 2019
Kristiono – Relawan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *