Berkat Customer RMA, Kini Mereka Bisa Mendengar Suara

Peduli Tunarungu DD Jateng

Amelia Ayu Dwi Mentari (8) dari Banyumas, siswa kelas dua Sekolah Luar Biasa (SLB) khusus tunarungu. Ayahnya, Herwin hanyalah tukang becak yang biasa mangkal di pasar-pasar di kota Purwokerto, Banyumas Jawa Tengah. Sejak setahun silam, Amel sudah merengek minta dibelikan alat bantu dengar, namun keinginan tersebut tidak dapat di wujudkan. Penghasilan sebagai tukang becak hanya cukup untuk makan.

Muhammad Al Fatih, 5 tahun, dari Kel Purbalingga Lor, Kec. Purbalingga, Kab. Purbalingga juga tak kalah bahagia, dengan Amelia. Siswa TK Aisyiah ini mendapatkan ABD dari customer RMA Tangerang. Ditemani Arni (34) bunda dari Fatih, banyak bercerita bagaimana pertama kali Fatih mengalami tunarungu. Diawali dengan sakit demam dan diare yang membuat Fatih harus opname di RS selama satu pekan sewaktu usianya baru 10 bulan.

Begitu di rumah pasca perawatan, ada yang tidak biasa dengan bayi Fatih. Tidur yang nyenyak walau ada suara petir menggelegar. Dicoba dengan pintu yang dibuka tutup dengan kerasnya juga bayi Fatih tetap lelap dalam tidurnya. Akhirnya Dokter menyarankan Fatih menjalani tes BERA dan hasil nya postif gangguan pendengaran 100Db kanan kiri. Ayah Fatih OB di sebuah koperasi syariah di kota Purbalingga, berjuang agar putra bontotnya yang istimewa ini tetap hidup seperti anak normal lainnya.

Lain Fatih dan Amel, Ozy (3) dari Kecamatan Adipala Kab. Cilacap juga mendapat ABD dalam waktu yang bersamaan. Bapak Ozy guru honorer disalah satu sekolah dasar negeri di Adipala. Mengumpulkan 16 juta rupiah untuk satu unit ABD jauh dari bayangannya. Walau 10 tahun dalam pengabdian sebagai guru honorer, sangat sulit untuk bisa mewujudkan impiannya membelikan ABD untuk putra satu-satunya.

Melalui donasi dari customer RMA, kini anak-anak tunarungu tersebut sudah bisa mendengar suara. Perjuangan mereka selanjutnya adalah belajar bicara. Terimakasih RMA, semoga amal kebaikan ini menjadi keberkahan untuk seluruh customernya.

Menurut Titi Ngudiati, Manajer Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC), Peduli Tunarungu ini harapannya bisa membantu mereka yang memiliki kekurangan dalam mendengar dan juga bisa belajar berbicara seperti anak lainnya meskipun menggunakan alat bantu dengar.

“Semoga Pogram Peduli Tunarungu ini dapat membantu mereka yang butuh alat bantu dengar namun terhalang karena masalah ekonomi. Apalagi satu alat bantunya seharga jutaan rupiah”, jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *