Cerita Amil: Bahagia Melihat Orang Lain Bahagia

Cerita Amil: Bahagia Melihat Orang Lain Bahagia

Ditulis Oleh: Damayanti -Pendamping Program Kebun Sayur Asparagus (KSA)

“Bekerja untuk beribadah, memberikan manfaat kepada banyak orang dan bertanggungjawab atas kemampuan yang telah dianugerahkan serta sebagai bukti syukur. Senantiasa jujur, peduli dan pantang menyerah dalam bekerja mencari harta yang halal.”

Hal yang wajar dirasakan oleh setiap freshgradute yaitu bimbang dalam menentukan langkah awal meniti karir. Bukan tanpa alasan, penyebab kegalauan salah satunya belum adanya pengalaman bekerja saat kuliah, belum bisa menentukan passion, salah jurusan pada saat kuliah atau tidak percaya diri dengan kemampuan yang ada. Tentu, sebelum saya akhirnya menjadi pendamping program Kebun Sayur Asparagus (KSA) ini, banyak drama yang dilewati seperti gagal wawancara, di PHP in perusahaan, masuk di perusahaan lintas bidang, terhalang restu keluarga dan lain sebagainya.

Bismillah, dengan niat bahwa bekerja untuk membantu orangtua (dunia dan akhirat) yang artinya bahwa dengan saya berkerja bisa membantu perekonomian keluarga, dan dengan saya bekerja bisa memberikan kebermanfaatan untuk keluarga, lembaga tempat bekerja, serta lingkungan tempat kerja dan hitung sebagai amal jariyah di sisi-Nya.

Berawal dari sebuah renungan mengenai about me pada lembar Curriculum vitae (CV) yang saya tulis dengan keadaan sadar dan lillahi ta’ala, akhirnya saya memutuskan untuk resign setelah hampir 1,5 bulan saya bekerja di perusahaan lintas bidang. Seorang teman berbaik hati membagikan informasi mengenai open recruitment dari Dompet Dhuafa (DD) Jateng dan Perhimpunan BMT Wonosobo. Saya berharap bahwa ini jalan untuk saya memberikan kebermanfaatan, memberikan saya kesempatan untuk bertanggung jawab atas ilmu yang saya dapatkan dari beasiswa pemerintah, serta memperingan hisab saya di akhirat nanti.

Tahapan recruitment telah saya lewati mulai dari seleksi berkas, wawancara, tes tulis serta psikotes. Dengan ijin Allah SWT, dan saya berkhusnudzon terhadap diri saya pribadi bahwa niat saya, cita-cita saya mengenai pekerjaan ini jujur karena Allah SWT, saya bisa menjadi Pendamping program pemberdayaan petani sayur asparagus di Wonosobo, terhitung sejak 6 Februari 2018.

Pengalaman Pertama

Awalnya sempat shock ketika mengunjungi lokasi pemberdayaan. Pertama karena budaya yang beda, selanjutnya karena komunikasi dengan Penerima Manfaat (PM) atau petani dengan bahasa Jawa (saya asli Sunda), minim pengalaman dalam pemberdayaan dan cuaca yang sangat dingin. Tempat tinggal saya masih satu RT dan RW dengan PM, memberikan saya kenyamanan dalam melakukan kordinasi. Di awal pertemuan, Alhamdulillah semua PM yang berjumlah 10 orang bisa hadir memenuhi undangan secara lisan yang saya sendiri bertamu ke rumah masing-masing PM.

PM yang masih bingung dengan arah tujuan program KSA bisa dengan mudah berdiskusi dengan saya, tidak ada rasa canggung ataupun malu, itu yang menjadi semangat saya di awal pemberdayaan ini. Konsep, tujuan, indikator keberhasilan, dan jangka waktu program saya sampaikan secara mendetail agar PM paham, nyaman dan tidak terbebani dengan mengikuti program ini.

Program ini jelas memiliki rencana implementasi. Satu persatu saya mengenal karakter beberapa tokoh masyarakat lokasi pemberdayaan, kendala dalam implementasi di awal tidak hanya masalah teknis tapi adanya masalah sosial. PM berusaha untuk tetap fokus pada kegiatan, meskipun ada masalah sosial seperti kurangnya pasokan air di ladang yang mengakibatkan pertikaian antar petani. Namun, keadaan semacam itu masih bisa diatasi dengan bersikap legowo dan sibuk mencari solusi bukan sibuk mencari siapa yang salah dan yang benar. Disinilah peran pendamping yang utama yaitu sebagai pendengar keluhan PM dan penanggungjawab kegiatan PM secara fisik maupun mental.

Memahami bahwa tugas pendamping sangat kompleks, memberikan gambaran bahwa karaktek seorang pendamping seharusnya tidak lagi bermasalah dengan urusan pribadinya, contohnya tidak percaya diri saat memberikan penyuluhan, tapi sudah harus berpikir cepat dan tepat. Manajemen masalah dalam hal ini, mencari solusi wajib diputuskan oleh pendamping, adapun harus berdikusi dengan pihak penyelenggara itu merupakan sebuah langkah utama, tapi pendamping harus bisa mengambil sikap yang adil bagi PM dan penyelenggara, karena merupakan jembatan antar kedua belah pihak.

Pelajaran Hidup

Sejauh ini yang saya rasakan dalam mendampingi PM, memberikan saya banyak pelajaran hidup yang tidak akan bisa saya dapatkan di tempat kerja lain. Pertama bahwa misi sosial ini berdampak terhadap karakter saya yang artinya bahwa di tempat ini saya harus lebih berani, mudah adaptasi, ramah dan lebih mementingkan urusan sosial, kedua dan selanjutnya adalah sebagai tempat yang menjadikan saya belajar banyak hal seperti manajemen anggaran, pembuatan berita acara, menyusun acara, berkomunikasi dengan berbagai pihak, dan pandai mengatur jadwal, selain itu saya paham bahwa hidup itu tidak harus mahal karena gayanya, tapi bisa memenuhi makan sehari-hari, sedekah, biaya sekolah anak-anak dan cukup untuk membeli daging walau sebulan sekali bisa terasa sangat bahagia, karena bukti kebahagiaan adalah dengan bersyukur dan menerima apa yang Allah SWT berikan.

Bukankah dunia ini hanya sementara, rezeki sudah Allah SWT jamin, jadi fokus untuk mengejar Surga-Nya dengan hidup sederhana. Kesederhanaan bukan berarti tanpa usaha untuk lebih berdaya, dengan adanya program ini sangat memungkinkan untuk mengubah status PM (Mustahik) menjadi muzzaki.

Saya rasa, bahagia melihat orang lain bahagia dengan apa yang kita berikan jauh lebih berharga, dan saya yakin pendamping akan lebih banyak merasakan hal tersebut. Tentu, dengan hati yang ikhlas saat memberikannya dan hanya berharap ridho-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *