Dukung ASI Eksklusif, DD Jateng Ikuti Pelatihan Konselor Laktasi

Dukung ASI Eksklusif, DD Jateng Ikuti Pelatihan Konselor Laktasi


Meski anjuran untuk menyusui ASI eksklusif marak digembor-gemborkan, masih banyak ibu yang kurang termotivasi anjuran untuk menyusui ASI eksklusif ini. Kesadaran tidak memberikan ASI ekslusif bagi bayi dibawah usia 2 tahun ini tidak hanya dari Ibu, namun juga tenaga kesehatan, serta keluarga.

Ditambah faktor gencarnya publikasi oleh produsen susu formula, juga sangat berpengaruh terhadap keberhaslan orang memberikan ASI eksklusif di Indonesia.

Setidaknya inilah yang melandasi SELASI (Sentra Laktasi Indonesia/ Indonesian Breastfeeding Center) Jakarta, megadakan pelatihan konselor laktasi bagi para pegiat ASI eksklusif dari berbagai daerah di Indonesia pekan ini. Sebanyak 24 calon konselor – termasuk DD Jateng – dari berbagai profesi baik medis maupun non medis dibekali dengan keilmuan berdasarkan metode dari WHO-UNICEF.

dr Utami Roesli, SpA, IBCLC, FABM sebagai Ketua Dewan Pembina SELASI, yang juga salah satu pegiat dari Indonesia yang getol menyuarakan kampanye ASI, berkesempatan memberikan pengantar yang cukup membuat para peserta calon koselor bertambah semangat mengikuti pelatihan.

Dokter anak yang pernah gagal menyusui eksklusif kedua anaknya ini juga menegaskan bahwa dengan memberikan ASI kita sedang berupaya menyelamatkan anak-anak generasi penerus bangsa ini untuk lebih hidup sehat dan berkualitas.

Dalam sesi akhir pada pengantar pelatihan, beliau menegaskan bahwa “manusia tidak sepantasnya diberi susu sapi yang merupakan bahan baku susu formula. Baginya bukan hanya bayi di bawah 2 tahun yang tidak butuh susu formula, anak-anak di usia selanjutnya juga lebih membutuhkan gizi seimbang daripada hanya sekedar susu”.

Konselor Laktasi

SELASI menggunakan istilah ‘konselor laktasi’ untuk para ‘kader’ yang telah lulus pelatihannya, bukan ‘konsultan laktasi’. Lembaga yang berkedudukan di Jakarta ini memang tidak berwenang ‘meluluskan’ konsultan laktasi.

Pelatihan reguler yang mereka adakan dua kali setahun hanya menekankan pada pelatihan keterampilan konseling (salah satu dari sederet keterampilan yang harus dimiliki dimiliki konsultan laktasi). Pelatihan ini terbuka bagi siapa saja yang berminat – tidak harus tenaga medis.

Sementara itu, negara-negara lain, istilah ini lebih dikenal sebagai ‘breastfeeding counsellor’ (konselor menyusui). Tugas seorang konselor laktasi, konselor ASI, alias konselor menyusui menurut Ali White — breastfeeding counsellor dan mantan perawat dari Birmingham, Inggris — dalam babyworld.com sebagai berikut :

  1. Memberi dukungan praktis, bagi ibu yang mengalami kesulitan menyusui
  2. Mengamati dan membantu ibu menyesuaikan diri dengan bayinya.
  3. Memberi layanan seputar menyusui.
  4. Memberi saran, konsultasi lewat telepon, berupa tips untuk menolong pada saat diperlukan. Bila perlu, merekomendasikan Ibu bayi untuk berkonsultasi ke dokter, bidan atau tenaga medis yang berwenang.
  5. Membantu ibu untuk tetap menyusui, terutama ibu yang kembali hamil saat masih menyusu, atau ibu yang harus bekerja setelah melahirkan

Anda tertarik?