Imron : Saya Bersyukur dan Optimis

Imron Hamzah merupakan salah satu penerima program Beastudi Etos Dompet Dhuafa, yakni program pemberian beastudi kepada mahasiswa kurang mampu namun berprestasi di sejumlah perguruan tinggi negeri di Indonesia. Pria yang kerap disapa Imron ini masuk kuliah tahun 2004 di Universitas Diponegoro Semarang dengan mengambil jurusan psikologi. Ia lulus 4,5 tahun kemudian dengan IPK 3.27, waktu yang relatif singkat untuk ukuran aktivis.

Sebuah hal yang tidak terduga dibenaknya bahwa beliau akan menjadi sarjana. Mungkin hal biasa bagi anak dari keluarga berada, tetapi ini menjadi sebuah kesyukuran luar biasa bagi anak pertama dari 3 bersaudara dengan orang tua yang hanya pedagang kecil di kampung. Tentunya Imron adalah sarjana pertama di keluarganya.

Sesuai tujuan beastudi etos yakni memutus rantai kemiskinan, maka Imron juga harus berjuang pasca kelulusannya untuk menjadi “seseorang” dengan kemampuan dan karakternya yang sudah dibentuk oleh program Beastudi Etos.

Setelah lulus, pria kelahiran Klaten 1986 ini memilih untuk terjun di dunia bisnis. Bersama kawannya dalam wadah Khatulistiwa Tour n Travel, ia menjalankan bisnis rental mobil yang berkantor di Ruko Pusposari Blok B No 2 Jalan Tembalang Baru Perumda Semarang.

Jatuh bangun ia jalani, pernah juga salah satu mobilnya dibawa kabur pelanggan, hingga kini sudah berjejer 13 jenis mobil yang dikelolanya. Omset yang berhasil dikantongi dalam sebulan antara 60 hingga 70 juta rupiah. Imron juga mempekerjakan beberapa orang sebagai karyawannya.

Ayah dua anak ini tetap aktif dalam kegiatan sosial dan kegamaan. Secara berkala ia membuat pelatihan kepada siswa-siswi pegiat rohis di Semarang. Tak hanya itu, sosok riang yang pernah menjabat sebagai ketua Insani Undip ini bercita-cita ingin memiliki pesantren enterpreneur quran yang mencetak para pengusaha penghafal quran.

Ketika ditanya apa kesan selama mendapatkan beastudi etos Dompet Dhuafa, ia menuturkan bahwa ia sangat bersyukur diberikan jalan oleh Allah melalui beastudi etos. Selain itu, rasa optimis yang pernah luntur dapat terbangun kembali dengan adanya berbagai program pembinaan dari beastudi etos. “Saya sangat bersyukur dan dapat kembali membangun rasa optimis dengan adanya beastudi etos”, ungkapnya penuh haru.

doa2