Kebun Sayur Asparagus: Ikhtiarkan Kemandirian Benih Buncis Bayi

Ikhtiar Kemandirian Kebun Sayur Asparagus

Produksi pertanian tidak lepas dari kualitas benih atau biji yang ditanam, semakin baik benih, maka semakin baik pula hasilnya.
Setelah sukses dengan budidaya buncis bayi periode tanam januari sampai dengan april yang mencapai hasil hampir 2 kali lipat dari minimal produksi, kini Penerima Manfaat (PM) Kebun Sayur Asparagus (KSA) mulai memproduksi benih sayur buncis bayi. Sejak 2 April PM telah menghasilkan 1 kg benih buncis bayi yang mereka produksi sendiri.

Adapun varietas yang akan dikembangkan yaitu buncis bayi Prancis dan Kenya yang ditanam di lahan kedua PM KSA. akan mulai ditanam pada pertengahan bulan Mei 2018. Hal tersebut dilakukan guna memandirikan PM akan kebutuhan benih buncis bayi, selain itu kebutuhan akan pasar benih buncis bayi yang semakin luas dengan adanya permintaan benih dari petani yang berada di kecamatan lainnya.

Saat ini pemasaran buncis bayi aman dan harga stabil, hal tersebut yang menjadikan petani untuk terus mengembangkan buncis bayi di lahannya masing-masing. Stabilnya harga di karenakan pasokan buncis bayi langsung dijual ke pengepul perusahaan eksportir di Temanggung yaitu Bumi Sari Lestari (BSL) dengan kebutuhan buncis bayi yang besar untuk dipasarkan ke Singapura.

Kemandirian benih ini juga bertujuan agar PM mampu menekan biaya pengeluaran dalam budidaya pertanian, kedepannya bukan hanya buncis bayi tetapi komoditas utama program ini yaitu asparagus. Benih asparagus dapat diproduksi pada tanaman yang berumur minimal 2 tahun, oleh sebab itu petani diberikan pengalaman dalam memproduksi benih dari bunci bayi terlebih dahulu.

Penekanan biaya pengeluaran dapat memberikan keuntungan yang lebih maksimal pula. Di samping itu adanya usaha untuk merekayasa lingkungan sebaik mungkin dapat menghasilkan produksi bisa lebih tinggi. Karena faktor lingkungan memberikan pengaruh yang besar bagi pertumbuhan tanaman.

Budidaya buncis bayi sebelumnya sudah melakukan rekayasa lingkungan dengan pemberian mulsa (penutup tanah) dengan bahan organik yaitu jerami dan alang-alang, pupuk organik dan pestisida organik dan berhasil meningkatkan produksi buncis bayi lebih dari 50% dari produksi minimal.

Ikhtiar untuk memproduksi benih ini dilakukan agar produksi bisa lebih tinggi dari produksi sebelumnya, karena PM dapat menentukan sejauh mana kualitas benih yang dihasilkan.

Pertanian menjadi salah satu profesi yang menjanjikan keberhasilannya jika di sertai dengan ilmu dan pengalaman. Semoga dengan pengalaman PM dan ilmu yang dipelajari oleh PM yang menamai diri mereka kelompok tani “Berkah Subur Mulia” dalam program KSA dapat meningkatkan penghasilan PM dengan meminimalkan biaya pengeluaran budidaya pertanian.

“Ikhtiar ini tentu harus didukung dengan doa dan kerja keras masing-masing stake holder yaitu PM, Pendamping maupun penyelenggara dalam hal ini Dompet Dhuafa Jawa Tengah dan Perhimpunan BMT Indonesia di Wonosobo”, ungkap Damayanti, pendamping program KSA yang bersemangat mendampingi PM untuk berhasil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *