Layanan Kesehatan Cuma-Cuma – Priksane Ning Becak Bae

LKC DD Jateng

Namanya Tursinah, wanita lanjut usia kelahiran sekitar 70 tahun lalu. Dengan diantar oleh adiknya, Nurngaeni yang usianya sama senjanya, Tursinah Sabtu pagi (25/11) sampai di LKC DD Jateng.

Gerimis sejak semalam membuat udara di Kota Purwokerto ini dingin. Pun Tursinah meringkuk dibecak yang membawanya. Sesekali kain sarung yang dibawa dari rumah dipilin-pilin dengan kedua tangannya, pandanganya nanar tidak fokus. Senyum entah pada siapa. Ketika disuruh turun, Tursinah bergeming, “emonglah” Katanya pada si pengantar, tidak mau beranjak turun dari becak. Drama pendekpun berlanjut, dibujuk sama keponakannya yang juga turut mengantar dengan sepeda onthel, masih juga enggan. Pandangan matanya asyik memandangi genangan air sisa gerimis semalaman.

Melihat gelagat pasien, pak dokter yang sejak pagi menunggu pasien, keluar. Menyapa nenek Tursinah dengan senyum lebar, penuh kehangatan. Bergegas mengambil peralatan tensi dan stetoskop. Tanpa canggung, mengecek keadaan Nenek Tursinah.

“Priksane ning becak bae ya?” Kata dokter Wahyu. Nenek Tursinah mengangguk, menatap tajam ke dokter selama pemeriksaan di becak.

Nenek Tursinah, diusia yang tidak lagi muda, hidup menumpang pada saudara. Selain menderita stroke, beliau juga menderita gangguan mental yang dialami sejak muda. Sebagai warga miskin, renta, hidup bergantung pada saudara, nenek Tursinah tidak menerima jaminan apapun.

Melodrama panjang rakyat kecil yang tak terpublikasikan. Bukan tentang uang trilyunan, hanya tentang hari ini akan makan apa, jika sakit ini datang lagi, harus kemana. Bukan tentang hebatnya tiang listrik yang tetap berdiri tegar, tapi tentang bulan ini listrik bayar pakai apa.

Dramapun berakhir, Nurngaeni adik nenek Tursinah berkutat dengan dompet kecil berisi uang dua ribuan dan selembar sepuluh ribuan yang kumal. Tanya dirinya harus membayar berapa untuk biaya sang kakak, Tursinah. Kami sampaikan tidak perlu membayar. Nanti kita malah akan melakukan kunjungan kerumah jika obat habis. Tidak perlu repot bawa sang kakak ke klinik. Ah, bahagia bagi mereka bukan sesuatu yang mewah, bisa menyelamatkan duapuluh lima ribu rupiah hari ini saja, binar bahagia tak bisa di tutupi. Sumringah.

Nenek Tursinah, Allah memang belum mengamanahkan suami ataupun anak yang keluar dari rahimmu, tapi Allah berikan adik dan keponakan yang hebat merawatmu sampai usiamu yang semakin tak berdaya.

Yang masih punya orangtua, bahagiakan, muliakan keduanya. Yang keduanya sudah tidak ada, langgengkan kebaikan bagi keduanya di akhirat dengan sedekah atas nama keduanya, dan amalan shalih lainnya.

Semoga Allah mampukan kita memuliakan kedua orangtua kita di dunia dan akhirat. Semoga Allah lembutkan hati kita mengambil hikmah dari kisah ini. Silahkan disebarkan sebagai pengingat kita semua, khsusnya generasi muda jaman now.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *