LKC Dompet Dhuafa dan Himpunan Mahasiswa Gizi UNSOED Latih Kader Posyadu Deteksi Dini Stunting

LKC Dompet Dhuafa dan Himpunan Mahasiswa Gizi UNSOED Latih Kader Posyadu Deteksi Dini Stunting

Bertempat di balai pertemuan RW, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma (LKC) Dompet Dhuafa Jateng dan Himpunan Mahasiswa Gizi Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto melatih kader Posyandu RW 03 Kelurahan Purwokerto Kidul pada Rabu sore(13/03). Selain pelatihan kader, pemberian makanan tambahan (PMT) juga diberikan pada sekitar 50 balita disekitar lokasi pelatihan. Hal ini bertujuan agar kader posyandu juga mampu menstimulasi ibu-ibu yang memiliki balita agar dapat memberikan makanan yang memenuhi standar gizi.

Berdasarkan kajian survey stunting yang dilakukan tahun 2018, Kabupaten Banyumas masuk 100 besar wilayah Kabupaten/Kota dengan angka stunting tertinggi di Indonesia (Data Bagian Perencanaan Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas Tahun 2018). Data ini berdasarkan hasil kajian survey cepat, dimana hasilnya sebanyak 24 persen angka dari 300 balita di Banyumas yang sebagai sampel. Sedangkan menurut standar Word Helath Organisation (WHO), angka maksimal adalah 20 persen.

Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya. Deteksi dini stunting pada balita merupakan salah satu upaya meningkatkan kualitas anak dan bagian dari tugas para kader Posyandu dalam aktivitasnya. Oleh karena itu sangat diharapkan pemahaman dan keterampilan kader dalam melakukan deteksi dini stunting. Pelaksanaan kegiatan ini dengan cara memberikan pelatihan tentang stunting, dan cara mendeteksinya.

Direktur LKC Dompet Dhuafa, Titi Ngudiati mengatakan penanganan stunting membutuhkan perhatian dari lintas sector, termasuk peran lembaga filantropi. Selain upaya melatih para kader Posyandu, Dompet Dhuafa juga memberikan bantuan pelunasan tunggakan BPJS bagi salah satu anak dengan kasus gizi buruk Sadewa (6). Kedepan agar Sadewa dan Ibunya, Suwatri (40) dapat menikmati akses BPJS PBI, akan dilakukan advokasi agar dapat masuk sebagai penerima Bantuan Iuran, karena termasuk keluarga tidak mampu. Suwatri, perempuan tangguh ibu Sadewa merupakan janda dengan empat anak. Sadewa memiliki saudara kembar, Nakula (6), sementara 2 anak lainnya masih remaja belum bekerja.

Ketua HMPSIG (Himpunan Mahasiswa Prodi Ilmu Gizi), bahagia bisa berkontribusi dalam program kerjasama ini. dirinya berharap agar kerjasama Antara HMPSIG dan LKC dapat terus berlanjut untuk berkontribusi langsung terhadap permasalah-permasalahan masyarakat, terutama dalam hal gizi. Kerjasama Antara LKC DD dan HMPSIG UNSOED sudah terjalain sejak tahun 2017 melalui berbagai event, baik program maupun penggalangan donasi untuk kebutuhan gizi anak-anak miskin diwilayah perkotaan dan pedesaan.

Investasi gizi sangat penting bagi keluarga, karena berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Bagi keluarga pra-sejahtera, pemenuhan gizi menjadi masalah tersendiri, selain factor kemiskinan, faktor pengetahuan yang terbatas juga menjadi jurang bagi orang tua dalam memenuhi gizi anak-anaknya. siapapun dapat berkontribusi untuk pemenuhan gizi anak-anak dan balita di Indonesia, melalui program sedekah bagi keluarga pra sejahtera, karena sehat untuk semua.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *