Madhuri, Jatuh dari Pohon Kelapa Hingga tak Bisa Jalan

Maduri (55), pekerjaan sehari-hari sebagai penderes nira. Menderita patah tulang dan infeksi saluran kencing, akibat terjatuh dari pohon kelapa. Setiap pekan kontrol di RS yang berjarak 40 km dari rumahnya.

Maduri Wastam (56), beliau merupakan warga asli Dusun Papringan Desa Kaliwangi Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas, sekitar 30 km dari kota Purwokerto. Maduri adalah salah satu diantara ratusan kepala keluarga di dusun ini yang berprofesi sebagai pembuat gula merah atau tukang deres kelapa.

Panjat Kelapa Setiap Hari

Pekerjaan beliau selama hidupnya adalah sebagai pencari bahan untuk membuat gula merah. Setiap hari beliau memanjat pohon untuk mengumpulkan air nira kelapa. Satu demi satu pohon kelapa yang tingginya belasan hingga puluhan meter beliau panjat bergantian.

Beliau bisa memanjat lebih dari 20 pohon setiap harinya. Pekerjaan yang penuh resiko dan taruhan nyawa ini sudah ditekuni sejak ia masih muda. Menurutnya tidak ada pilihan lain yang lebih baik di sekitar tempat tinggalnya untuk mencari nafkah.

Madhuri hanyalah seorang lulusan SD, keterampilan yang beliau kuasai adalah memanjat pohon kelapa. Karena keterbatasan kemampuan, membuatnya tidak banyak pekerjaan yang bisa ia geluti.

Seiring bertambahnya usia, kelincahan dan kekuatan Madhuri memanjat pohon juga mulai memudar. Umur memang tidak bisa berbohong, Madhuri mulai memasuki usia lanjut. Namun Madhuri tetap harus memberikan nafkah hidup keluarganya.

Jatuh dari Ketinggian 10 Meter

Sampai suatu ketika beliau jatuh dari pohon kelapa. Tak tanggung-tanggung, dari ketinggian lebih dari 10 meter. Beberapa bagian tubuhnya patah, tulang ekor, beberapa iga dan juga saluran kencingnya terganggu.

Selama dua tahun ini, Maduri terpaksa memasang kakteter disaluran kencingnya karena alasan medis. Jika tidak, maka Maduri tidak dapat berkemih secara normal.

Saat musim penghujan, batang pohon kelapa memang sangat licin. Jatuh dengan posisi duduk itulah yang menyebabkan Madhuri juga tidak bisa bisa berjalan dan terpaksa harus menggunakan kursi roda.

Tak Sanggup Berobat di RS

Awalnya Madhuri tidak sanggup berobat di Rumah Sakit. Hanya dua kali beliau sempat melakukan rawat jalan ke rumah sakit Margono di Purwokerto. Karena jarak yang cukup jauh dan keterbatasan biaya menuju rumah sakit, maka beliau memutuskan untuk berhenti berobat.

Yang membuat berat adalah karena setiap menuju rumah sakit beliau harus menyewa mobil selama sehari penuh. Sebetulnya proses pengobatanya cukup singkat, hanya saja antrian yang sangat panjang dan bertahap menyebabkan Madhuri harus menunggu seharian di Poli Urologi Rumah Sakit Margono Purwokerto.

Pendampingan LKC untuk Madhuri

Melihat hal ini, kini Madhuri rutin diantar jemput dan didampingi berobat oleh tim Layanan Kesehatan Cuma-cuma (LKC) DD Jateng setiap pekan untuk berobat di RS Margono Purwokerto. Alhamdulillah Madhuri sudah merasa lebih baik.

Keluhan sakit di saluran kencingnya karena infeksi sudah mulai reda. Nyeri di tulang ekor dan saluran kencingnya pun berkurang. Istri Madhuri, merasa sangat terbantu dengan hadirnya layanan ambulans dan pendampingan dari LKC DD Jateng. Ia kini lebih tenang dalam menjalankan aktivitasnya sebagai pengganti kepala keluarga yang mencari nafkah sehari-hari.

Alhamdulillah Puji Syukur pada Allah SWT, Madhuri yang tadinya menggunakan kursi roda berangsur-angsur membaik dan bisa berjalan pelan-pelan. Sampai hari ini Madhuri masih melakukan rawat jalan setiap pekannya.

Tim LKC DD Jateng selalu mendampingi dan memotivasi agar tidak pernah putus berdo’a dan berikhtiar. Semua sudah menjadi ketetapan Allah SWT, kita sebagai hamba Nya hanya berharap sakit ini bisa menjadi penggugur dosa dosa dalam timbangan amal kelak. Amin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *