Menjual Ginjal Untuk Bayar Hutang

WhatsApp Image 2018-09-18 at 17.00.44

Ernawati (34) atau biasa disapa Erna merupakan ibu dari dua orang anak yang bernama Teguh Rahayu Slamet (13) dan Akhmad Sabiq Habibie (5). Sudah 2 tahun ia berusaha banting tulang sendiri demi menghidupi keluarga. Semua Erna lakukan karena ia memutuskan untuk berpisah dengan suaminya. Saat ini ia tinggal di Gang Kramat Jati, Dusun Kedunguter RT 02 RW 03 Kelurahan Kedunguter, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Demak. Rumah tersebut adalah milik ibu dan bapak dari Erna.

Dulunya, Erna merupakan orang berada ketika menikah dengan mantan suaminya. Saat itu ia tinggal sekaligus berjualan warung kelontong di daerah Krapyak, Kota Semarang. Namun nasibnya tak beruntung, suaminya seringkali berbohong hingga uang hasil jualan diambil tanpa sepengetahuan Erna untuk keperluan lain yang juga tak Erna ketahui.

Akhirnya Erna memutuskan untuk berpisah dan hidup mandiri, namun masih menumpang di rumah orang tuanya. Ia hanya nunut untuk makan dan tempat tinggal saja dengan orang tua. Namun untuk kebutuhan lainnya seperti sekolah anak, ia harus mencari nafkah seorang diri.

Satu minggu lalu Erna berhenti berjualan karena kehabisan modal usaha. Lalu ia memutuskan untuk bekerja di Pelabuhan Tanjungmas dengan gaji Rp 50.000 per hari. Sebenarnya Erna juga terlilit hutang di rentenir sebesar Rp 2.500.000,- (pokok pinjaman) belum lagi ditambah bunga yang harus dibayarkan setiap minggu 10% dari pokok pinjaman (Rp 250.000,-). Tak hanya itu, ia juga memiliki hutang di bank, yang setiap minggunya ia harus membayar Rp 100.000,-.

Ibu Erna setiap harinya bekerja di sawah, sedangkan bapaknya bekerja sebagai buruh. Penghasilannya pun tak menentu, sehingga orang tuanya tidak dapat membantu membayar hutang anaknya. 3 saudara kandung Erna yang tinggalnya berdekatan dengannya juga tak mau membantu dengan alasan sudah memiliki keluarga dan mempunyai kebutuhan masing-masing.

Dengan kondisi yang sangat terhimpit, Erna sempat ingin menjual ginjalnya ke RS. Kariadi, Semarang. Namun disana sedang tak membutuhkan donor ginjal melainkan donor mata. Akhirnya ia putuskan untuk tidak jadi mendonorkan organ tubuhnya. Qadarullah, ada orang yang berbaik hati datang menemuinya di RS. Kariadi merekomendasikan bantuan melalui Dompet Dhuafa.

Ernapun bukanlah perempuan yang sempurna, kondisi fisik (kaki) yang cacat mengharuskan Erna berjalan pincang. Semasa kecil, ia pernah terjatuh dari tangga dan mengakibatkan patah tulang pada kaki sebelah kirinya. Sehingga ada beberapa bagian tulang yang harus dipotong oleh dokter.

“kalau saya boleh pilih, saya mending jualan lagi mbak (rujak, es dan sosis) daripada saya bekerja di Pelabuhan uang saya habis cuma buat bayar bunga di rentenir, karena setiap 2 minggu sekali saya belanja hanya mengeluarkan Rp 400.000 saja, dan perhari saya bisa dapat Rp 100.000 keuntungannya.”, ujar Erna.

Selang seminggu setelah melalui proses survey Selasa (18/9) Dompet Dhuafa (DD) Jateng kembali mendatangi rumah Erna untuk mentasyarufkan modal usaha agar keinginannya berjualan dapat terlaksana.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *