PILIHLAH PEMIMPIN

Pemilihan Pemimpin

Dalam Surat Al-Hujurat: 13 Allah SWT telah menegaskan bahwa manusia diciptakan sebagai makhluk sosial, antara yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan sehinggga membentuk suku, bangsa dan masyarakat. Dalam hidup bermasyarakat ini manusia tidak mungkin melepaskan diri dari masalah kekuasaan dan kepemimpinan, baik tingkat yang paling rendah seperti kepala rumah tangga, menengah seperti kepala wilayah maupun tinggi seperti kepala negara. Pada prinsipnya menurut Islam, setiap manusia adalah pemimpin. Ini sejalan dengan fungsi dan peranannya di muka bumi sebagai khalifatullah (QS. Al-Baqarah: 30) yang bertugas untuk memakmurkan bumi dan menjaganya (QS. Hud: 61) dan tidak berbuat kerusakan (QS. Al-Qashah: 77). Dalam HR. Bukhari-Muslim diterangkan:

“Dari Ibnu Umar r.a. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Ingatlah, semua kamu adalah pemimpin dan semua kamu akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”. (HR. Bukhari-Muslim)

Di dalam Al-Qur’an banyak diketemukan istilah yang bermakna kepemimpinan ini, antara lain kata imam (QS. Al-Baqarah: 124), khalifah(QS. Al-Baqarah: 30), malik (QS. Al-A’raf: 3), amir atau ulil amri (QS. An-Nisa: 59) dan sultan (QS. An-Nisa: 144). Ini menunjukkan bahwa masalah kepemimpinan dalam Islam tidak boleh dianggap sepele dan remeh. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh Ibnu Taimiyah:

“Agama Islam tidak akan bisa tegak dan abadi tanpa ditunjang oleh kekuasaan, dan kekuasaan tidak bisa langgeng tanpa ditunjang dengan agama”.
Rasulullah SAW menyuruh mengangkat pemimpin dari salah satu dari 3 orang yang melakukan safar (perjalanan). dari hal yang paling kecil sekalipun sangat di perhatikan, soal kelompok bersafar/berpergian.

“Dari Abi Sa’id r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda: “apabila ada 3 orang keluar dalam suatu safar (perjalanan) maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin”. (HR. Abu Daud)

pada intinya umat Islam harus memperhatikan masalah kepemimpinan dan tidak boleh bersikap acuh tak acuh. Baik itu kepemimpinan sebagai Ketua RT, Kepala Dukuh, Kepala Desa, Camat, Bupati, Gubernur, Presiden ataupun jabatan-jabatan yang lainnya. Kedudukan Pemimpin Yang Adil Memberi banyak manfaat bagi umat Tidak hanya menurut pandangan masyarakat, menurut pandangan Agama Islam pun menjadi pemimpin itu memiliki kedudukan yang terhormat. Hal ini karena: Menjadi pemimpin akan memiliki peluang untuk lebih bermanfaat hidupnya bagi orang banyak. Bukankah Rasulullah SAW bersabda: ”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesama manusia”.

Semakin tinggi jabatan seorang pemimpin, maka akan semakin besar pula peluang kemanfaatan dirinya bagi orang banyak. Pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang adil, bisa lebih utama daripada ibadahnya orang lain yang dilakukan berpuluh-puluh tahun. Karena dalam satu hari, seorang pemimpin bisa mengeluarkan keputusan yang dapat menyelamatkan beribu-ribu atau bahkan berjuta-juta orang yang teraniaya, mengembalikan hak kepada pemiliknya dan memotong jalan orang-orang yang berbuat kejahatan dan kemungkaran.

Pemikiran seorang pemimpin yang cerdas bisa lebih utama daripada sedekahnya beribu-ribu dermawan. Karena pemimpin berpeluang untuk mendirikan proyek-proyek yang bisa mendatangkan ribuan lapangan kerja bagi para pengangguran, menjadi roti bagi orang lapar, obat bagi yang sakit, rumah bagi yang gelandangan dan pertolongan bagi orang yang membutuhkan. Mulia di sisi Allah SWT. Rasulullah SAW dalam banyak haditsnya telah menginformasikan betapa terhor-matnya kedudukan seorang pemimpin yang adil, antara lain:

“Satu hari dari imam yang adil adalah lebih utama daripada ibadah 60 tahun”. (HR. At-Thabrani dari Ibnu Abbas).
“Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah ialah pemimpin yang adil.” (HR. Tirmidzi dari Abu Sa’id)

Ada 7 golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tiada naungan selain naungan Allah, salah satunya adalah peimpin yang adil”. (HR. Bukhari-Muslim) “Kelompok yang doa mereka tidak ditolak ialah (1) orang yang berpuasa sehingga dia berbuka, (2) pemimpin yang adil dan (3) orang yang teraniaya”. (HR. Ahmad dan Abu Hurairah).

Begitu tingginya kedudukan seorang pemimpin, maka Allah SWT mengajarkan agar umat Islam tiada henti-hentinya untuk berdo’a untuk menjadi pemimpin.
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami dari isteri-isteri kami dan anak keturunan kami sebagai penyenang hati (kami) dan jadikanlah kami imam (pemimpin) bagi orang-orang yang bertaqwa”. (QS. Al-Furqan: 74)

Prinsip Dasar Memilih Pemimpin

Dalam hal ini Rasulullah SAW juga bersabda:
“Barang siapa yang menempatkan seseorang karena hubungan kerabat, sedangkan masih ada orang yang lebih Allah ridhoi, maka sesungguhnya dia telah mengkhianati Allah, Rasul-Nya dan orang mukmin”. (HR. Al Hakim)

Allah berfirman dalam Surat An-Nahl: 90:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (QS. An-Nahl: 90)

Pilih pemimpin yang aspiratif, mau memperhatikan keluhan masyarakat, bersikap lemah lembut dan gemar bermusyawarah. Allah berfirman dalam QS. Ali Imran: 159 :

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka men-jauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah am-pun bagi mereka, dan bermusyawarah-lah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membu-latkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawak-kal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159)

Pemimpin harus memiliki bayangan sifat-sifat Allah SWT yang terkumpul dalam Asmaul Husna dan sifat-sifat wajib Rasul yang 4 yaitu sidiq (jujur), amanah (bisa dipercaya), fathanah(cerdas) dan tabligh (bisa menyam-paikan gagasan dan mampu membawa umatnya ke arah perbaikan dan kemajuan).
Mampu menjadi teladan untuk umat, sebagaimana Rasulullah yang menjadi figur teladan bagi umatnya juga. Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang meng-harap (rahmat) Allah dan (kebahagiaan) pada Hari Akhir, serta banyak mengingat Allah”. (QS. Al-Ahzab: 21)

Pemimpin Berat resikonya

Menjadi pemimpin, walaupun memiliki kedudukan yang mulia, namun berat resikonya. Maka janganlah meminta jabatan, tetapi kalau dipilih terimalah. Perhatikan hadits berikut ini:
Dari Abdurahman bin Samrah, dia berkata: Nabi SAW bersabda: Wahai Abdurrahman, janganlah kamu minta jabatan, sesung-guhnya jika kamu dapat jabatan karena minta, maka akan menanggung banyak beban, tetapi kalau kamu mendapat ja-batan tanpa minta-minta maka kamu akan memperoleh pertolongan. (HR. Bukhari)

Rasulullah SAW juga mengingatkan dalam suatu hadits:
“Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah SAW bersabda: Sungguh kamu sekalian sangat berhasrat menjadi pejabat, padahal itu akan menjadi penyesalan di hari qiyamat”. (HR. Bukhari)

Jika Tidak Ada Kandidat yang memenuhi standar

Bagaimana jika tidak ada kandidat yang memenuhi standar yang sudah ditetapkan? Atau bahkan bagaimana bila ada kekhawatiran tugas jabatan itu akan jatuh pada orang yang tidak amanah dan akan lebih banyak membawa madlorot bagi umat Islam? Dalam kasus seperti ini, tentu tidak ada salahnya bila yang memiliki keahlian berusaha untuk meraihnya. Dengan catatan: (1) harus niat ikhlas semata-mata mencari ridlo Allah SWT, (2) amanah dan akan tetap istiqomah, (3) memiliki keunggulan dari pada kom-petitor lainnya dan (4) ada kekhawatiran terjadinya bencana jika dibiarkan jabatan itu diserahkan kepada orang lain. Simak kisah Nabi Yusuf yang meminta untuk diangkat sebagai bendahara negeri Mesir.

Allah berfirman: “(Yusuf berkata):Jadikan-lah aku bendahara negeri (Mesir), karena sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga (amanat) dan berpenge-tahuan”. (QS. Yusuf: 55)

WhatsApp Image 2018-08-21 at 11.33.42

Ditulis Oleh: Ahmad Zia Khakim, S.H

 (Cops Dai Dompet Dhuafa Jawa Tengah)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *