Reki: Manusia Roda Tiga

Manusia Roda Tiga

Kamis (07/12) aku berkesempatan untuk memberikan bantuan kepada salah satu mustahik ajuan sosial media (re: facebook). Dialah Reki Priyanto, yang terlahir cacat (difabel) sejak ia berusia tiga tahun. Rasanya tak kuasa melihat keadaannya, lelaki itu harus duduk dikursi roda sedari kecil hingga ia berkeluarga.

“Siapa yang mau seperti ini mbak”, tuturnya pelan.

Setiap hari beliau harus bekerja menggunakan kendaraan roda tiga dari rumahnya di Candi Pawon, Semarang menuju Pusponjolo, Semarang. Kendaraan tersebut menjadi satu-satunya alat beliau untuk mencari nafkah.

“Pernah mogok dan besi kendaraan roda tiganya patah mbak dijalan, sehingga merepotkan banyak orang. Saya takut kejadian tersebut terulang lagi, makanya saya meminta bantuan Dompet Dhuafa untuk bisa meringankan beban saya”, jelasnya dengan nada sendu.

Saat ini, Reki tinggal bersama dengan kedua anak dan istrinya dirumah mertuanya. Tak hanya Reki dan istrinya saja, dua kakak beserta keluarga dari istri Reki pun turut tinggal bersama dengan kedua orang tuanya. Jelas bisa kita bayangkan betapa sesaknya hidup bersama dengan sepuluh anggota keluarga, dengan kondisi rumah yang tidak mendukung. Kamar tidur yang hanya ada 3 ruang, dapur yang berantakan, serta kamar mandi yang kumuh membuat suasana rumah bisa dibilang tak layak dihuni. Hanya ruang tamu dan ruang keluarga saja yang terlihat rapih.

“Mau gimana lagi mbak, uangnya belum cukup untuk membeli rumah sendiri”, tambahnya.

Reki bekerja sebagai desainer di salah satu konveksi daerah Pusponjolo, Semarang. Setiap harinya ia bekerja dari Senin sampai Sabtu, mulai pukul delapan pagi hingga lima sore. Penghasilannya pun hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, sedangkan ia harus membayar listrik patungan dengan kakak istrinya, membayar angsuran kendaraan, dan membayar sekolah anaknya.

Namun, Reki tak lantas berhenti hanya bekerja disatu tempat saja. Ia juga bekerja dirumah, menjual jasa pembuatan desain secara online.

“Komputer ini juga pemberian Dompet Dhuafa 2 tahun yang lalu”, tambahnya. Aku pun sontak terkaget, ternyata ia masih mengingat pemberian tersebut.

“Alhamdulillah, walaupun tak seberapa penghasilannya namun cukup untuk membeli susu anak saya yang masih balita”, tukasnya.

Selepas memberikan bantuan kepada Reki, pulangnya aku pun diberikan makanan dalam plastik yang entah apa isinya oleh keluarga besar istri Reki. Aku pun menolak, sampai akhirnya ayah istri Reki menaruh makanan dalam plastik itu langsung ke motorku. Ayah istri Reki adalah seorang penjual gilo-gilo keliling. Sudah 30 tahun lebih ia berjualan gilo-gilo. Ucap terimakasih aku sampaikan pada keluarganya. Maha besar Allah, karena rejeki tak hanya berupa materi.

Ditulis oleh: Yasin’ta Aulia N (Staf Program DD Jateng)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *