Reza, Aku Ingin Mendengar Bila Ada yang Memanggil

http://jateng.dompetdhuafa.org/wp-content/uploads/2017/01/Fadhilah-Reza.jpg

Reza adalah anak pertama dari dua bersaudara. Reza yang saat ini berusia 14 tahun sudah menginjak kelas 7 SMP. Reza mengenyam pendidikan di SLBC Yakut Purwokerto sejak menduduki bangku SD. Di sekolah khusus untuk anak-anak Tuna Rungu itulah reza banyak menimba ilmu.

Sebetulnya guru di sekolahnya menilai bahwa Reza mampu bersekolah di SMP umum, tapi Reza tidak mau karena khawatir nanti akan dikucilkan oleh teman teman barunya, yang tidak mengerti dunia sepi anak tuna rungu.

Sejak Usia 1,5 tahun Reza mengalami indikasi tidak dapat mendengar. Ibunda reza menuturkan sewaktu kecil reza senang memainkan mainan yang menimbulkan suara. Saat itu masih ada respon dari anaknya waktu mendengar bunyi-bunyian. Sampai suatu ketika saat berusia satu tahun Reza didiagnosa mengalami sakit liver. Reza sempat dirawat selama berhari-hari di RS Margono Purwokerto.

Ibunda Reza bahkan sempat teringat kala itu Reza sempat diberi cairan infus khusus yang sudah diberi obat tambahan dengan botol khusus. Setelah sakit itu Reza diduga tidak dapat mendengar. Keluarga akhirnya membawa Reza ke dokter Spesialis THT. Hasilnya Reza divonis oleh dokter tidak dapat mendengar. Namun, ada sedikit sisa pendengaran Reza yang masih bisa digunakan dengan bantuan alat bantu dengar.

Ketika ditanya apa keinginan Reza kalau nanti bisa pakai alat bantu dengar, ia hanya menjawab sederhana. “Biar ngerti kalau ada yang panggil”, jawab Reza dengan terpatah-patah diikuti dengan isyarat. Selama ini Reza harus disentuh apabila ada yang ingin memanggilnya.

Reza anak yang patuh kepada orang tua. Selama ini reza selalu menuruti arahan dari ibu dan bapaknya. Hampir setiap sore Reza membagi waktu antara latihan Taekwondo dan mengaji di masjid dekat rumahnya. Reza pernah menjadi juara pertama dikejuaraan Taekwondo tingkat provinsi.

Alhamdulillah Reza juga sudah bisa membaca Al-Qur’an. Walaupun tidak begitu lancar dan kesulitan mengucap huruf sesuai makhrojnya, tapi bacaanya masih cukup terdengar jelas.

Tepat diakhir tahun 2016 DD Jateng melalui program Banyumas Tuna Rungu Center memberikan Alat Bantu Dengar kepada Fadhilah Reza. Menurut staff ahli alat bantu dengar, memang perlu adaptasi yang cukup lama untuk bisa nyaman memakai alat bantu dengar, karena anak tuna rungu terbiasa denga dunia sepi dan sunyi tanpa suara.

Pada awal memakai alat biasanya mereka akan pusing dan tidak nyaman karena terlalu banyak suara. Namun, seiring berjalanya waktu alat bantu dengar ini akan memperbaiki artikulasi yang mereka ucapkan. Kini, keinginan sederhana Reza bisa terwujud, yakni bisa mendengar bila ada yang memanggilnya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *