Rohingya yang Mengunci Ingatan

ROHINGYA YANG MENGUNCI INGATAN

Hari ini saya tidak mengawali hari dengan sarapan dua lembar biskuit, mempersiapkan obat-obatan dan peralatan medis untuk melakukan pelayanan kesehatan bagi para pengungsi. Saya mulai dengan mencuci pakaian kotor yang tak sempat dicuci disana.

Hari ini saya tidak perlu naik mobil bak terbuka selama dua jam dari posko kami di Cox’s Bazaar untuk mencapai lokasi pengungsian, saya duduk manis di samping suami yang menyetir menuju bilangan Senen untuk menikmati Coto Makassar.

Hari ini saya sudah kembali berada di Jakarta setelah dua minggu membantu para pengungsi Rohingya, tugas yang saya lakukan bersama aktivis lembaga kemanusian lainnya.
Saya selalu bersyukur kita di Indonesia saat ini tidak lagi dilanda konflik sebagaimana yang dialami saudara-saudara kita di Rakhine dan belahan dunia lainnya. Saya sangat bersyukur bahwa seluruh komponen bangsa ini cukup menyadari bahwa konflik bersenjata tidak pernah menjadi jawaban untuk penyelesaian masalah.

Sejarah bangsa ini sudah cukup diwarnai darah dan air mata orang-orang tertindas. Kita pernah mengalami perang antar kerajaan di wilayah Nusantara. Kita sudah pernah mengalami penjajahan dari bangsa asing yang menghisap sumber daya bangsa ini dan mengadu domba anak-anak bangsa sendiri.
Pemberontakan-pemberontakan, konflik-konflik horizontal atas nama beragam ideologi dan kepentingan sudah menumpas banyak nyawa, menumpahkan darah dan air mata sehingga nyaris saja mengoyak bangsa ini. Dan yang paling menderita dari sebuah konflik dan perang selalu orang-orang paling lemah; orang-orang tua, perempuan, dan anak-anak.

Ah, saya tidak akan pernah lupa wajah-wajah itu. Wajah Bibi Ara, Asha, Monida, Hafsa, Ara, dan banyak lainnya tak akan pernah hilang dari kepala saya. Selamanya wajah mereka akan selalu saya ingat.

Selamanya mereka akan menjadi symbol dari penderitaan akibat perang di Rakhine. Sebutlah mereka korban dari kebjikakan diskriminatif pemerintah Myanmar. Sebutlah mereka korban dari pemberontakan yang dikobarkan oleh ARSA. Sebutlah mereka korban ketidakpedulian negara-negara adikuasa yang mengendalikan dunia.

Sebutlah mereka korban dari cengkeraman kapitalisme yang ingin menguasai sumber daya alam Rakhine. Sebutlah mereka apa saja; mereka adalah wajah ketertindasan yang tak kuasa melakukan apapun selain mengungsi, menyelamatkan nyawa dan sedikit kehormatan yang tersisa sebagai manusia.

Bibi Ara dan bayinya Asna Biba hanyalah dua dari ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tersebar di beberapa lokasi di perbatasan Myanmar–Bangladesh. Mereka berdua sudah sudah 2 bulan terakhir kekurangan nutrisi untuk mencukupi kebutuhan gizi mereka.

Bayi Asna Biba sudah terancam malnutrisi bahkan di masa-masa awal kehidupannya. Dia terancam stunting, gizi buruk, dan beragam penyakit lainnya yang mengikuti malnutrisi ini. Air susu dari ibunya tidak cukup berkualitas karena sang ibu juga tak cukup mampu memenuhi nutrisinya.

Monida, seorang perempuan hamil yang tanpa didampingi suami juga adalah salah satu dari pengungsi ini. Saya tidak berani membayangkan nasib sang bayi yang sedang dikandungnya. Segala nutrisi penting yang dibutukhan oleh ibu hamil tak mampu didapatkan di lokasi pengungsian ini. Belum lagi kondisi kumuh dan sanitasi buruk tentu membawa konsekuensi berkembangnya kuman dan bibit penyakit lainnya dapat kapan saja menyerang sang bayi.

Scabies, abses (bisul), tinea (panu) dan penyakit kulit lainnya hampir merata di semua pengungsi. Begitu juga ISPA (infeksi saluran pernafasan akut) juga menjadi penyakit umum yang nyaris menjadi wajib bagi setiap pengungsi.

Mungkin kedengarannya tidak semengerikan penyakit seperti kanker dan jantung, tapi penyakit-penyakit ini memberi kita banyak informasi. Maraknya penyakit kulit menandakan sanitasi dan kebersihan pribadi para pengungsi sangat memprihatinkan.
Tak jarang terlihat anak-anak pengungsi buang air besar di sembarang tempat dan bahkan di pinggir jalan. Kita tahu, ketersediaan air bersih dan system sanitasi yang baik tentu sangat vital untuk sebuah tempat pengungsian. Begitu pula ISPA, penyakit ini adalah tanda bahwa sirkulasi udara di tempat pengungsian ini sangat tidak sehat.

Mereka hidup, makan, dan tidur di tenda yang sangat rendah dan berjejalan. Kondisi tempat pengungsian yang sesak dan sempit menjadikan udara tidak bebas mengalir.

Bakteri dan virus setiap saat menjadi ancaman untuk setiap pengungsi. Jika kondisi ini dibiarkan berlarut-larut, penyakit-penyakit yang lebih mengancam nyawa akan ngantri di depan pintu-pintu tenda pengungsian.

Kami dari Indonesian Humanitarian Alliance, aliansi dimana Dompet Dhuafa bergabung bersama organisasi-organisasi lain dari Indonesia, salah satu tugasnya adalah menyiapkan system pelayanan kesehatan yang baik untuk melayani para pengungsi. Tidak hanya itu, kami juga menyiapkan Program seperti pendirian shelter, WASH dan fasilitas-fasilitas lainnya.

Upaya ini kami lakukan agar hidup para pengungsi tidak semakin menderita. Sungguh sangat menyedihkan jika mereka yang sudah berusaha menyelamatkan diri dari represi dan konflik bersenjata, harus terjatuh dalam ancaman lainnya; kelaparan, penyakit, dan ketidakberdayaan lainnya.

Mereka adalah manusia yang Rasulullah sendiri menjamin darah harta dan kehormatan mereka dalam Khutbah di Haji Wada, “Wahai manusia sekalian, sesungguhnya darah kalian, harta kalian dan kehormatan kalian adalah haram/dilindungi, sebagaimana mulianya hari ini di bulan yang mulia ini, di negeri yang mulia ini”. Saya yakin seluruh agama memiliki kewajiban menghormati hak hidup manusia.

Inilah perang kami. Inilah bentuk dari perang yang kami ambil untuk membantu orang orang tertindas dari para pengungsi Rohingya. Dan kami memanggil kita semua untuk bergabung dalam usaha kemanusiaan ini.

Mereka adalah saudara-saudara kita, mereka adalah bagian dari kemanusiaan kita, mereka adalah sesama makhluk Tuhan yang memiliki harkat dan martabat paling mulia.

***
“Tabe, ini cotonya,” tegur sang pelayan mengagetkan saya.
Ratapan saya tertuju pada mangkuk Coto Makassar, ketupat, dan segelas es teh manis pesanan saya. Di Cox’s Bazar tidak ada sajian seperti ini. Saya merasa sangat egois, sementara para pengungsi dan rekanan relawan berlera dalam kelaparan.
Jangan tanyakan apa mereka dapat makan daging atau menyesap teh. Beras saja susah mereka dapatkan. Air harus didapatkan dengan berebut hingga kelahi. Saya betul-betul egois.

Di suapan pertama, saya mendengar panggilan itu. Di suapan selanjutnya, panggilan itu terasa semakin mengetuk pikiran.
“Kenapa, Sayang?” tanya suami saya.

Saya hanya membalas dengan senyum tipis sembari menyisakan tanya yang belum terjawab.

ROSITA RIVAI
Aktivis kemanusiaan Dompet Dhuafa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *