Sedekah dari Si Sakit

Sedekah Si Sakit

Namanya Pak Usman (60), Kamsudi (77), Suyanto (46), dan Rasito (55). Semuanya penderita gagal ginjal akibat berbagai penyakit komplikasi yang diderita. Sudah ada yang satu tahun menikmati layanan ambulance LKC Purwokerto, ada pula yang masih hitungan bulan. Kesemuanya dua kali sepekan harus menjalani cuci darah di salah satu RS di Purwokerto. Jarak tempuh yang tidak dekat dan kondisi yang kadang drop tidak memungkinkan mereka menggunakan angkutan umum.

Almarhum Angkat Riyanto, sesama pasien layanan ambulan lah yang mengawali ajakan sedekah. Walau dalam kondisi sakit, dan lemah secara ekonomi, beliau mengajak rekan-rekan yang selama ini menggunakan layanan ambulan LKC Dompet Dhuafa untuk bersedekah semampunya. Sementara Rasito yang saat ini masih singgah di Rumah Singgah LKC Dompet Dhuafa, sedekah dengan caranya sendiri, setiap pagi menyapu dan cabut rumput serta mengelola lahan kosong disekitar LKC untuk berkebun sayur. Hasilnya sayur dinikmati oleh seluruh penghuni Rumah Singgah.

Hari ini, jum’at (27/04) rombongan ini pun sebelum bertolak dari RS ke rumah masing-masing yang rata-rata jarak mencapai 25 KM-30 KM datang rombongan. Amplop putih yang sudah tertera nama masing-masing diserahkan kepada petugas. Senyum mereka lebar, dengan wajah berseri menyerahkan infak terbaik dari mereka. Sambil guyon, Pak Kamsudi berujar, mbokan kiye sedekah terakhire kulo mbak  (barangkali ini menjadi sedekah terakhir saya mbak). Disebelahnya, Pak Usman menambahkan, jika penderita gagal ginjal seperti mereka setiap hari ada yang meninggal. Dalam satu kelompok hemodialisa nya sudah berapa puluh yang sudah tidak ada.

Terakhir rekan sesama pengguna layanan ambulance LKC yang di panggil Allah terlebih dahulu. Dirinya dan temen-teman mengaku dalam kepasrahan kapan akan diambil nyawanya, Hemodialisa yang selama ini mereka jalani hanya ikhtiar sebagai manusia. Usman, kamsudi, Suyanto, Rasito merasa beruntung dan terbantu dengan layanan ambulance LKC Dompet Dhuafa. Dulu mereka harus mengeluarkan biaya transport satu kali sekitar 250 ribu-300 ribu. Harta benda habis untuk membayar sewa mobil dan bayar hutang sana sini.

“Pada titik nadir dan pasrah untuk tidak melanjutkan proses hemodialisa inilah, kami bertemu dengan layanan ambulance Cuma-Cuma LKC Dompet Dhuafa, sehingga kami bisa tetap melanjutkan pengobatan. Infak dari kita yang sakit ini tidak mungkin dapat membantu operasional selama melayani kita. Tapi kita berharap, Allah mencatatnya sebagai amal terbaik. Saya selalu mendoakan semoga Dompet Dhuafa terus tanpa lelah membantu orang seperti kami” Ucap Usman dengan berkaca-kaca.

Masalah kesehatan masih menjadi pekerjaan rumah besar di negeri ini. Berawal dari zakat, ujar Titi, Manajer LKC Purwokerto, Layanan Kesehatan Cuma-Cuma Dompet Dhuafa hadir ditengah-tengah masyarakat miskin. LKC Dompet Dhuafa hadir ditengah-tengah mereka yang membutuhkan, bukan sekadar layanan sementara, Zakat, infak, sedekah pada dermawan dikelola dalam wujud gerai rawat jalan yang kini sudah melayani ribuan pasien dhuafa, layanan ambulanc, rumah singgah pasien dan program kemaslahatan dan pemberdayaan lainnya. Seperti program promotif dan preventif digulirkan ditengah komunitas masyarakat marginal. Berbagai kampanye kesehatan di gaungkan sebagai syiar menuju masyarakat sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *