SUKISMA, SANG PEREMPUAN TANGGUH

SUKISMA, SANG PEREMPUAN TANGGUH
Seorang janda kelahiran tahun 1966, tampak menyusuri jalan raya sambil mengayun sepeda tua berisi makanan kecildan aneka minuman yang ia jajakan. suhu yang dingin dan jalan masih gelap gulita tak membuat semangatnya berhenti untuk menjajakan barang daganganya tersebut. Setiap pukul tiga malam, ibu Sukisma atau yang akrab di panggil bu Sukis sudah berada di pasar dadakan untuk menjual dagangan bawaanya. Meski hanya mendapatkan keuntungan 50 rupiah tiap makanannya, ia lakoni dengan tekun setiap harinya.

“maklum, inikan dagangan milik orang lain jadinya tidak bisa mengambil untung lebih” ujar beliau.

Setelah usai menjual dagangan tersebut bu Sukis kembali kulakan jajanan pasar yang pada siangnya harinya ia jual berkeliling ketempat wisata atau ketempat yang ramai pengunjunnya di Semarang utara. Saat jualan jajanan pasar ia selalu di temani kakanya yang bernama Rochayati (62 th) yang tujuannya adalah berjaga agar saat bu Sukis berjualan ia tidak tertangkap petugas keamanan (satpol PP), yang kerap sekali menggusur pedagang kecil yang ingin mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari.

Alasan berjualan bu sukis ialah, karena dirinya sudah lima tahun melakoni aktivitas sebagai penjual jajanan pasar dan minuman es degan berkeliling. Ia mengatakan, kegiatannya tersebut semata-mata untuk mencukupi kebutuhan hidupnya sehari-hari dan sebagian ditabung untuk bekal di masa tua.

saat ini bu sukis hanya tinggal sendirian di rumah kontrakan. Suaminya telah lama meninggal dan belum memiliki keturunan. Dia mengungkapkan, aktivitas berjualan keliling tersebut ia lakukan dengan senang hati tanpa pernah mengeluh.

Namun di usianya yang terus bertambah ia berharap agar usahanya medapat bantuan modal dari pemerintah setempat, agar nantinya bisa berkembang dan berjualan ditempat yang layak tanpa harus dikejar-kejar satpol PP.

Dengan melihat kegigihan bu sukis, melalui program ekonomi – Kelompok Usaha Inspiratif (KUI), iapun patut menerima bantuan dari Dompet dhuafa, berupa gerobak dan modal awal untuk berjualan minuman es dan makanan ringan, program bantuan ini dilakukan secara bertahap Mulai bulan Juni 2018 hingga bulan mei 2019 tepat pada bulan ramadhan 1440 H lalu, tentunya semua ini takluput dari doa bu sukis setiap harinya , yang akhirnya ia mendapat bantuan modal usaha sebesar 2 juta rupiah dan sebuah gerobak dorong.

Dengan menggunakan gerobak tersebut bu sukis dapat menambah barang dagangannya serta membuatnya lebih nyaman dan aman dari pada sepeda tuanya itu. Dulu yang awalnya hanya mampu memperoleh keuntungan kurang dari 50 ribu per hari, sekarang keuntungan bersihnya bisa mencapai 50-60 ribu per hari.

“Alhamdulillah dan terimakasih” ucapnya penuh tawa dan rasa sangat bersyukur atas rezeki yang ia terima dan tak henti hentinya ia ucapkan kepada tim Dompet Dhuafa Jateng.

Bahkan sejak berjualan dengan gerobak, ia mengaku bisa lebih semangat dan optimis untuk bisa sukses. Itulah dia bu sukis sang perempuan tangguh, dialah pejuang masa kini, sikap pantang menyerah dan terus berjuangnya itu patut untuk kita contoh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *