Di sebuah sudut sunyi Kecamatan Tarub, Kabupaten Tegal, tangis lirih seringkali memecah keheningan malam. Bukan tangis manja meminta mainan, melainkan rintihan menahan sakit dari tubuh mungil yang baru berusia 3 tahun. Di usia di mana seharusnya ia berlarian riang mengejar bola, adik kita ini justru harus berbaring lemah. Kakinya membengkak, sebuah tanda bahwa sel-sel jahat Retinoblastoma (kanker mata) Stadium IV A OS sedang menggerogoti tubuh kecilnya tanpa ampun. Bagi kedua orang tuanya, setiap detikan jam dinding terasa seperti palu godam yang menghantam dada; berpacu dengan waktu, berharap keajaiban segera tiba.
Perjuangan ini sebenarnya sempat menemui titik terang. Jauh-jauh dari Tegal, sang ayah dan ibu pernah membawanya berobat hingga ke Bandung. Di sana, pelayanan medis yang baik sempat membawa perkembangan positif. Ada senyum yang mulai merekah, ada harapan bahwa buah hati mereka bisa sembuh dan melihat indahnya dunia kembali.
Namun, ujian datang tanpa permisi. Roda ekonomi keluarga mendadak macet. Di saat sang anak membutuhkan penanganan medis segera karena pembengkakan yang kian parah, pintu pengobatan itu tertutup rapat. Alasannya menyesakkan dada, iuran BPJS Kesehatan menunggak selama dua bulan.
Hanya karena nominal Rp800.000, nyawa sang balita menjadi taruhannya. Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya sekadar biaya gaya hidup, namun bagi keluarga ini, itu adalah tembok raksasa yang memisahkan anak mereka dari kesembuhan.
Alhamdulillah, Allah SWT menggerakkan hati orang-orang baik. Melalui program Layanan Mustahik (Lamusta) Kesehatan Dompet Dhuafa Jawa Tengah, kabar baik itu akhirnya datang. Tim Dompet Dhuafa Jawa Tengah segera melunasi tunggakan BPJS tersebut, meruntuhkan tembok penghalang yang selama ini mencekik harapan keluarga. Kini, sang pejuang cilik itu bisa kembali melanjutkan pengobatannya. Senyum ayah dan ibunya kembali terbit, seiring dengan terbukanya kembali jalan ikhtiar medis bagi buah hati tercinta.
Sahabat, kisah adik kecil di Tegal ini hanyalah satu dari sekian banyak potret buram saudara kita yang terhimpit biaya kesehatan. Di luar sana, masih banyak “pejuang-pejuang cilik” lainnya yang terpaksa menahan sakit karena ketiadaan biaya.
Jangan biarkan mereka berjuang sendirian dalam gelap. Kebaikanmu adalah cahaya bagi mereka. Mari sisihkan sebagian rezeki untuk menyambung harapan hidup mereka yang membutuhkan.



