
BANYUMAS – Sejak lulus SMA, Sindi Khusnul Qhofifa (25) sudah terbiasa bekerja dan berjuang untuk membantu keluarganya. Ia pernah menjadi buruh pabrik di Bogor sebelum kemudian bekerja sebagai pekerja rumah tangga di Jakarta Selatan selama kurang lebih tujuh tahun.
Bagi Sindi, bekerja bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan dirinya. Sebagian penghasilannya digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga, mulai dari kebutuhan dapur hingga membantu biaya pendidikan adiknya. Ia bahkan turut membayar cicilan motor adiknya selama tiga tahun untuk menunjang aktivitas sekolah.
Tanggung jawab Sindi semakin besar ketika sang ibu, Saniah, mengalami kelainan jantung berupa kebocoran katup dan harus menjalani pengobatan. Biaya pengobatan memang terbantu melalui BPJS, namun kebutuhan transportasi untuk kontrol dan kebutuhan sehari-hari tetap menjadi beban keluarga.

Ayah Sindi bekerja sebagai penjaga vila di Baturraden dengan penghasilan yang tidak tetap. Ia hanya memperoleh bayaran ketika ada tamu. Di sisi lain, sang ayah juga harus sering mengantar dan mendampingi istrinya berobat sehingga kesempatan untuk bekerja menjadi semakin terbatas.
Kondisi tersebut membuat keluarga Sindi terkadang harus berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Adiknya yang baru lulus SMA juga masih membutuhkan dukungan agar dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Di tengah berbagai tanggung jawab tersebut, Sindi masih memiliki harapan untuk memperbaiki kondisi keluarganya. Ia bercita-cita bekerja ke luar negeri sebagai pekerja rumah tangga. Pengalaman selama bertahun-tahun menjalani pekerjaan serupa di Indonesia menjadi bekal yang ingin ia manfaatkan untuk mendapatkan kesempatan kerja dengan penghasilan yang lebih layak.
Jika cita-cita tersebut terwujud, Sindi berharap dapat membantu menyelesaikan utang keluarga, memenuhi kebutuhan orang tua, serta mengupayakan biaya operasi jantung ibunya. Ia juga ingin membantu satu-satunya adik agar dapat melanjutkan kuliah hingga meraih gelar sarjana.
Namun, untuk menjadi calon pekerja migran, Sindi terlebih dahulu harus mengikuti pendidikan dan pelatihan di Lembaga Pelatihan Kerja Swasta (LPKS). Biaya pendidikan dan pelatihan tersebut harus dibayarkan di awal. Sementara itu, penghasilannya selama ini masih banyak digunakan untuk membantu kebutuhan keluarga.
Kondisi inilah yang menjadi kendala bagi Sindi. Ia memiliki kemauan untuk melangkah, tetapi terbatas dalam memenuhi biaya awal pendidikan dan pelatihan.
Melihat kondisi tersebut, Dompet Dhuafa Jawa Tengah hadir memberikan bantuan pembayaran tagihan pendidikan dan pelatihan Sindi, pada (22/9). Bantuan ini diharapkan dapat membantu Sindi menyelesaikan salah satu tahapan penting sebelum melanjutkan proses menjadi calon pekerja migran.

Bantuan tersebut bukan hanya tentang menyelesaikan biaya pelatihan, tetapi juga menjadi dukungan bagi Sindi untuk membuka peluang kehidupan yang lebih baik. Dengan kesempatan tersebut, ia berharap dapat memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih layak untuk membantu keluarganya secara berkelanjutan.
Dompet Dhuafa Jawa Tengah terus berupaya menghadirkan kebermanfaatan melalui berbagai program sosial dan pemberdayaan. Dukungan para donatur melalui dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (ZISWAF) menjadi bagian penting dalam membantu masyarakat yang sedang berjuang meningkatkan kehidupannya.
Semoga bantuan ini menjadi langkah awal bagi Sindi untuk mewujudkan cita-citanya. Semoga perjuangannya dapat membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi dirinya dan keluarganya.