PURBALINGGA– Sebuah langkah pengamanan akses pendidikan diwujudkan melalui penyaluran bantuan dukungan pendidikan kepada Oniel Newman, siswa program Kejar Paket C di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ubaya Bakti, Kabupaten Purbalingga, pada Kamis (5/3/2026). Penyaluran ini merespons permohonan keluarga untuk memastikan keberlanjutan pendidikan Oniel di tengah guncangan ekonomi keluarga yang parah akibat musibah penipuan usaha yang dialami ayahnya, Bapak Rudi.
Oniel, yang berdomisili di Kecamatan Purbalingga, saat ini mengandalkan PKBM sebagai ruang belajar utamanya. Sebelumnya, ia merupakan siswa di sekolah reguler. Namun, kondisi kesehatan mengharuskannya beralih ke jalur pendidikan nonformal. Di PKBM Ubaya Bakti, ia mengikuti jadwal kelas malam secara intensif setiap hari Senin, Rabu, dan Jumat.
Secara sistematis, keberadaan lembaga seperti PKBM memegang peranan vital di Purbalingga sebagai penyelenggara pendidikan kesetaraan tingkat menengah atas (setara SMA/MA). Fasilitas ini memberikan opsi yang lebih fleksibel dan inklusif bagi warga belajar yang mengalami kendala kesehatan, keterbatasan waktu, maupun persoalan finansial untuk tetap mendapatkan ijazah dan hak pendidikan yang layak.
Dukungan pendidikan bagi Oniel bersifat mendesak mengingat kondisi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk. Sejak Juli 2025, Bapak Rudi mencari nafkah sebagai pedagang eceran telur dan beras. Dalam perjalanannya, usaha yang menjadi tulang punggung keluarga tersebut mengalami musibah fatal; modal berupa barang dagangan dibawa kabur oleh oknum sales dan tidak pernah kembali. Insiden tersebut mengakibatkan keluarga menanggung kerugian materiil hingga Rp5 juta.
Kondisi ekonomi keluarga kini tergolong rentan karena masih bergantung pada sisa perputaran usaha kecil yang belum stabil. Kendati demikian, Bapak Rudi tetap memegang komitmen yang kuat dan menolak menyerah agar putranya dapat menyelesaikan pendidikannya. Melalui penyaluran bantuan ini, beban pembiayaan yang selama ini sulit dipenuhi secara mandiri oleh pihak keluarga dapat teratasi. Peristiwa ini sekaligus menjadi cerminan pentingnya gotong royong sosial untuk memastikan ekosistem pendidikan nonformal dapat terus melindungi kelompok masyarakat rentan dari risiko putus sekolah.





